awal yang tidak terlalu bagus

akhirnya kembali ngeblog setelah hampir 3 bulan ditelantarkan. Memasuki bulan maret ini kayaknya ada yang kurang kalo saya ga “nyampah” di blog ini.  Aktivitas 3 bulan ini sepertinya tidak ada yang terlalu extraordinary, saya belum ditugasi ke daerah lagi, saya yang (akhirnya) menghanguskan tiket saya ke singapura karena banjir Jakarta  dan daily activity saya yang cenderung sama. sebagai pengingat mungkin saya akan menulis secara singkat kejadian yang saya alami 3 bulan pertama di 2014 ini.

Di awal 2014 ini entah kenapa saya merasa kehilangan aura keburuntungan saya. Saya selalu di gelari teman saya sebagai orang yang “terkutuk beruntung”, panggilan itu sebenarnya karena imbas saya sering ikut kuis dan alhamdulilah menang. kuis yang saya ikuti umumnya adalah untuk mendapatkan tiket konser atau film. Semua memang berawal dari iseng, tapi mungkin 2 tahun kemarin saya lagi beruntung makanya menang. Salah satu faktor lainnya adalah saya yang berhasil mendapatkan tiket ke korea 3,8 juta PP dengan pesawat garuda. Waktu saya membeli tiket itu memang kebetulan moment nya pas dengan  promo garuda. Yah kalo dicari sekarang harga tiket ke Seoul sekali jalan malahan paling murah 5 juta. Semua “blessing” yang saya dapatkan 2 tahun kemaren seperti nya dihentikan sementara oleh Tuhan. yah mungkin tidak dihentikan maksudnya tapi karena hidup memang akan selalu berputar dan saya kedapetan lagi apes aja saat ini.

Pada Januari lalu ketika banjir melanda Jakarta, rumah yang saya tempati kena juga. saya baru 8 bulan tinggal disana. tidak mengherankan sebenarnya, karena itu siklus tahunan yang akan melanda daerah rumah saya itu. Saya sudah tahu dari awal saya pasti akan merasakan banjir, namun mengingat permintaan dari mama saya yang melihat tempat tersebut bagus untuk usaha dia makanya saya aminkan saja. Karena banjir tersebut saya sempat dibuat harus merasakan pengungsian. Mengungsi bersama sama tidur dengan banyak orang akan sangat berbeda rasanya ketika tidur bersama-sama dengan orang lain ketika camping atau kumpul dengan teman-teman. Banyak hal yang harus ditahan ketika kita harus hidup bersama sama dengan orang lain salah satunya masalah penggunaan toilet. Ini adalah hal paling krusial selama saya mengungsi, hidup dengan orang berbeda karakter dan berbeda strata pendidikan membuat kita tak bisa berekspektasi banyak (bahasa gampangnya *sing waras ngalah).

Banyak hal menarik yang saya temui ketika di pengungsian ,

1.pertama adalah masalah bantuan. Tinggal di jakarta akan sangat menguntungkan walaupun anda tertimpa musibah. akses yang mudah menjadi penyebab utama. Bantuan mengalir deras kepada pengungsi. anda tak perlu khawatir akan kekurangan makan karena ada dapur umum yang dibangun sejak awal banjir.  Mungkin ini kesannya subjektif karena diberitakan di tivi ada beberapa pengungsi yang menderita tapi based on posko saya sendiri begitulah kenyataanya. Setiap pengungsi mendapat kelimpahan makanan, satu keluarga akan mendapatkan satu dus mie, satu dus air mineral, sembako, selimut, makanan, susu bayi, diaper bayi dll. Bantuan banyak berdatangan makanya jangan heran dengan tulisan saya yang menulis dus lagi bukan buah.

2. Sudah sedemikian rupa ditimpa musibah, masih saja ada manusia yang lupa dengan Tuhannya. saya berbicara disini dalam konteks pengungsi yang umumnya islam. saya yang dari pagi sampai malam sampai pagi lagi di pengungsian hanya sedikit melihat mereka yang sholat. padahal mereka semua rata2 islam. Padahal bukankah dengan musibah setidaknya kita lebih mengingat tuhan. sebagai intropeksi diri apa kesalahan kita selama ini sehingga ditimpa musibah seperti ini. Saya dari dulu selalu mempercayai jika ada sesuatu yang buruk menimpa saya, pasti ada yang salah dengan saya.Mungkin saya yang lupa bersyukur, menyakiti orang lain, kesombongan atau hal khilaf yang tanpa sadar saya lakukan. Bukankah kita manusia yang luput dari kesempurnaan.

3.Jangan berurusan dengan ibu ibu ataupun bapak, ribet euy karena akan selalu berlaku aturan anak kecil akan selalu salah.

4.Sangat susah keluar dari zona nyaman. Wilayah saya adalah wilayah langganan banjir setiap tahun dan umumnya orang-orang yang tinggal disana adalah orang lama yang sudah terbiasa dengan banjir. Mereka akan selalu tiap tahun mengungsi, membersihkan rumahnya, kehilangan perabotannya, dan akan terkena banjir lagi. Punya rumah yang merupakan zona nyaman bagi sebagian orang dengan apapun yang terjadi sulit bagi mereka untuk keluar dari zona nya.

Saya termasuk orang yang bagaimana? saya termasuk orang yang tidak tahan harus berurusan dengan banjir, sudah cukup dengan seminggu mengungsi, membersihkan rumah dari lumpur berkali kali dan kehilangan beberapa barang akibat banjir, Untung rumah yang saya tempati rumah sewaan jadi saya bisa mencari tempat yang lebih aman dari banjir.

Hidup itu pilihan dan suatu pilihan sulit ketika saya akhirnya meng cancel tiket saya yang ke Singapura. Tanggal tiket saya kebetulan sama dengan saya lagi kebanjiran. Tidak mungkin saya berleha leha di SG sementara mama saya kebanjiran.  besok kayaknya ga usah lagi tergiur tiket promo karena kita ga akan tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Saya tahu musibah akan selalu ada hikmahnya. Setidaknya saya sekarang bisa tidur dengan tenang walaupun hujan besar melanda Jakarta tanpa takut sewaktu2 akan kebanjiran.

 

2 thoughts on “awal yang tidak terlalu bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s